Pages

Saturday, October 29, 2011

"Teater" Syair Diujung Kabut

Tetapi mengapa lagi-lagi orang harus menyaksikan perang dan perang dinegerinya. Keberingasan dilampiaskan pada diri sendiri, saudara sendiri, kerabat sendiri, bangsa sendiri. Ketika setiap orang berpergian di negerinya sendiri, tak henti-hentinya diperiksa, diteliti, dan diteliti lagi. Seolah sampai pada napas yang mendesah alami dari setiap rongga mulut pun harus dicurigai. Masya Allah ! (Ibrahim Kadir)
But why again and again people have witnessed war and war in the country. Acts of violence to yourself, your own, your own relatives, the nation itself. When each person traveling in his own country, constantly examined, researched, and researched more. Looks like a breath a sigh on the nature of each of the oral cavity must be suspected. Masya Allah ! (Ibrahim Kadir)
 
Tahun  1940, disebuah kampung benama Kemili kecamatan Bebesan Aceh Gayo, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Ibrahim Kadir. Bakat seninya sudah terlihat sedari kecil sebagai seorang pemain tari Seudati yang dikemudian hari bakal mengantarkannya menjadi seorang Ceh, seorang seniman yang piawai dalam mencipta syair-syair yang dikenal sebagai seni bertutur atau sering disebut sebagai seni Didong. Kesenian Didong selalu menampilkan dua grup dalam sebuah penampilan untuk saling mengadu ketangkasan kata. Meskipun saling menyerang dengan kata-kata, syair-syair dalam didong mengandung makna yang dalam serta sarat dengan nilai-nilai estetika. Kesenian khas tanah Gayo ini diperkirakan muncul sejak Reje Linge ke 13

In 1940, a village named Kemili Bebesan Gayo Aceh district, was born a son named Ibrahim Kadir. His artistic talent is seen as a childhood dance Seudati players will then be escorted into CEH, an artist skilled in creating poetry known as the art of speaking or often referred to as art Didong. Didong art always show two groups in the view for each dexterity words complained of. Although attacked each other with words, poetry in Didong implies a deep and loaded with aesthetic values. Art typical soil Gayo Reje thought to arise from Linge to 13


Syair di ujung Kabut adalah satu dari sekian banyak karya Ramdiana. Dengan mengambil latar belakang tanah kelahirannya, Ramdiana yang baru saja merampungkan S2 nya di ISI Yogyakarta jurusan penciptaan teater mencoba mengembalikan ingatan kita akan peristiwa pahit tentang korban politik pada masa itu. Sosok Ibrahim Kadir seorang Ceh Didong yang karena kekeliruan ditangkap dan dituduh memberontak bersama PKI.
Poetry at the end of the Mist is one of the many works of Ramdiana. Given the background of his homeland, Ramdiana S2, which recently completed the creation in ISI Yogyakarta majoring in theatre trying to restore the bitter memories of victims of political events at that time. The figure of Ibrahim Kadir, a CEH Didong deliberately arrested and accused of rebellion with the PKI.

22 hari Ibrahim Kadir dipenjara. Selama dalam tahanan inilah sebuah kisah terkuak. Ibrahim Kadir melihat pembantaian demi pembantaian terjadi. Ia menjadi saksi dari kebiadaban itu. Melalui syair-syairnya yang ia tulis selama mendekam dipenjara, Ibrahim Kadir menceritakan pembantaian yang setiap hari ia saksikan.
Ibrahim Kadir, 22 days in jail. While in the custody of here is the story unfolds. Ibrahim Kadir see carnage after the massacre. He witnessed the barbarity. Through his poems he wrote during the time in prison, Ibrahim Kadir described the massacre that he witnessed every day.
Inilah yang barangkali membuat Ramdiana berani dan mampu menyuguhkan sebuah pementasan dengan apik. Alur cerita yang kuat dan saksi kunci yang masih hidup. Dengan merujuk pada syair-syair serta kisah hidup Ibrahim Kadir yang akhirnya selamat dari pembantaian peristiwa pada masa itu sebuah sejarah dibuka.
 
This is what probably makes Ramdiana brave and able to play with the smooth. Strong storyline and key witnesses still alive. With reference to the poems and the life story of Ibrahim Kadir, which ultimately survived the massacre events of that time. Part of the story unfolds eventually returns.
Konsep pertunjukan yang ditawarkan Ramdiana cukup menarik. Permainan lighting minimalis serta properti karung goni, mondar-mandir diangkut para pemain yang berperan sebagai kuli panggul.

Tumpukan karung-karung goni sebagai seting utama, seperti tafsir kejadian pada masa tahun 1950 ketika muncul pergolakan DI/TII yang kemudian disusul meletusnya PKI dimana orang-orang tak bersalah diangkut secara paksa kemudian dipenjara tanpa tahu apa kesalahannya
The concept of the show suggested that Ramdiana very interesting. Minimalist lighting and ownership of burlap sacks, transporting paced player who acted as porters pelvis. The piles of burlap sacks as the settings key, such as the interpretation of the events during the uprising of 1950, when he learned DI / TII are followed by the eruption of the PKI which they people innocent were taken by force and imprisoned without knowing what the failure.

Pada pertengahan pertunjukan tiba-tiba muncul  tali-tali tambang yang dijadikan sebagai simbol tiang gantungan bagi para tahanan. Lengkap sudah pertunjukan itu menjadi sebuah tontonan yang tidak hanya sekedar hiburan, melainkan sebuah refleksi akan sebuah kisah yang terjadi di Gayo pada masa itu.
In the middle of the show suddenly appeared rope mines, which serve as a symbol of the gallows for prisoners. Complete show has become a spectacle, which is not just entertainment, but rather a reflection of a story that occurred in the Gayo in the days.


Lewat pementasan teater Syair di ujung Kabut, sepertinya Ramdiana tidak hanya ingin menguak cerita lama yang menjadi trauma masyarakat Gayo tetapi seperti ada pesan tersembunyi bahwa seni Didong adalah seni bertutur yang sarat akan nilai-nilai religius, adat istiadat, semangat nasionalisme serta  jiwa kegotong-royongan yang kuat.
Through the poem at the end of theatrical fog, it seems Ramdiana not just want to open old history, which has traumatized Gayo society but, as a hidden message that art is the art of Didong talk which will be full of religious values, customs, the spirit of nationalism and the spirit of co-operativity strong. (Kuncoro)

SUTRADARA Ramdiana PENATA GERAK Gita Kinanthi PENATA SETTING Beni Susilo Wardoyo (Mata Emprit) PENATA KOSTUM /MAKE UP Dhani Brain PENATA MUSIK Reza Dien PENATA LIGHTING Dwi Novianto 
PEMAIN Eliz Christin,, Eka Whayu N H, Andre Pratama, Silvi A Purba, Syahri Utomo, Khairul Amri, Gunadi Ponsa, Aguez Jago (Jawa-Gayo) , Wein Kurniadi, Alfansyie Gayto Hakka, Arbiyanto Saputra B N, Taufiq Suhada, Rhara AR Sultan, Gita Kinanthi,, Silvia Purba, Edi, Heksa, Kurtubi, Dhany Beno, AB Asmarandana.

sumber: http://www.indonesiaculture.net

No comments:

Post a Comment