Pages

Sunday, November 6, 2011

RADIO RIMBA RAYA

Pada tanggal 19 Desember tahun 1948 terjadi agresi militer Belanda ke II, dengan menguasai Yogyakarta sebagai ibukota negara, Belanda mengumumkan kepada dunia bahwa Indonesia sudah takluk dan keberadaaannya di PBB sudah dihapus serta melakukan penangkapan terhadap Soekarno, Mohamad Hatta dan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya Ibukota negara ini menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI)  di Sumatra yang dipimpin oleh Syafrudin Prawiranegara.
Presiden dan Wakil Presiden membuat surat kuasa yang ditujukan kepada Mr. Syafruddin Prawiranegara yang saat itu menjabat Menteri Kemakmuran yang sedang berada di Bukittinggi. Presiden dan Wakil Presiden mengirim kawat kepada Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk pemerintahan darurat di Sumatra dan mengambil alih Pemerintah Pusat.Tetapi surat itu tidak sampai ketangan Syafruddin Prawiranegara. Selain itu, untuk menjaga kemungkinan bahwa Syafruddin tidak berhasil membentuk pemerintahan di Sumatera, juga dibuat surat untuk Duta Besar RI untuk India, dr. Sudarsono, serta staf Kedutaan RI, L. N. Palar dan Menteri Keuangan Mr. A.A. Maramis yang sedang berada di New Delhi.
Selain melakukan serangan fisik dengan senjata dan  pesawat tempur, Belanda melakukan  provokasi melalui komunikasi udara. Dr. Beel, Gubernur  Jenderal Belanda di Batavia melalui Radio mereka “Radio  Batavia” di Jakarta dan “Radio Hilversum” di Holland mengumumkan kepada dunia bahwa Indonesia sudah Collapse ( Tumbang ) , Dr. Beel juga memerintahkan pesawat tempur Belanda untuk melakukan penghancuran terhadap semua pemancar radio yang berada di semua wilayah Indonesia.

 Akibatnya, angkasa Indonesia sepi informasi, sepi pemberitaan yang membela keberadaan Indonesia, tidak ada pengumuman yang dapat membakar semangat para pejuang Indonesia,  Pasukan RI kala itu tiarap, Serangan dan propaganda Belanda melalui Radio Batavia dan Radio Hilversum memperkuat posisi politik Belanda di mata dunia internasional.
Di tengah-tengah kevakuman tersebut, muncullah peran besar Radio Rimba Raya untuk menangkis propaganda Belanda yang mengejutkan banyak pihak dan cukup telak mematahkan semangat Belanda pada saat itu. Perang urat syaraf ( Psywar ) ternyata mampu ditandingi oleh Radio Rimba Raya.
Radio Rimba Raya mematahkan provokasi dan propaganda yang dilakukan oleh Belanda, Berita penting yang menyelamatkan eksistensi Indonesia di dunia adalah “ Republik Indonesia masih ada, wilayah Republik masih ada, tentara republik masih ada, dan disini adalah Aceh”
Akhirnya, Provokasi Belanda yang pada mulanya merebak seantero dunia, pupus seketika. Respon negara-negara pendukung eksistensi Indonesia diperkuat dengan siaran “Radio Rimba Raya”.
Reaksi keras bermunculan dari dalam dan luar negeri, melawan pernyataan Dr. Beel, terutama dari negara-negara Timur-Tengah, Asia, Amerika, Mesir, Maroko, serta dari Sekjen PBB sendiri, Trigve Lie. Reaksi keras awalnya bermula dari Tanah Rencong lewat Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo Tgk Muhd. Daud Beureueh yang dipancarkan melaui siaran Radio Rimba Raya, ia mengumumkan kepada seluruh dunia bahwa Negara Republik Indonesia kini masih tegak dengan kokoh, merdeka dan berdaulat.
Melalui Radio Rimba Raya ini pula pesan disampaikan kepada delegasi Indonesia di luar negeri,dr Sudarsono di India dan  L.N. Palar delegasi Indonesia di PBB melakukan diplomasi jitu membela dan menyelamatkan eksistensi Indonesia di PBB, liku liku diplomasi antara Indonesia dan Belanda semakin di bicarakan dunia internasional.

Counter (bantahan ) yang disuarakan oleh Radio Rimba Raya mampu mematahkan propaganda Belanda dan meyakinkan dunia internasional terhadap eksistensi Indonesia, serta memaksa Belanda untuk duduk melakukan perundingan di Denhaag, yang lebih dikenal dengan Konferensi Meja Bundar (KMB) 27 Desember1949, sehingga menghantarkan Indonesia mendapatkan kedaulatannya.
Radio Rimba Raya yang telah menciptakan perjalanan sejarah Indonesia, mula-mula ditempatkan di Krueng Simpo, Bireuen, yangdigunakan oleh Tentara Divisi X dibawah kepemimpinan Kolonel Husin Yusuf. Setelah beberapa saat beroperasi, radio ini dipindahkan ke Cot Gue, Banda Aceh dengan signal calling resmi "Radio Repoeblik Indonesia
 Pemindahan ini atas dasar perintah langsung Gubernur Militer Aceh Langkat dan tanah Karo, Tgk M Daud Beureueh.
Dalam perjalanannya, ternyata di pegunungan Cot Gue pun pemancar ini tidak aman. Akhirnya diperintahkan lagi untuk diamankan ke pegunungan di Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah, yang diyakini akan sulit ditembus oleh pesawat-pesawat tempur Belanda. Peralatan Radio ini ditempatkan di Desa Rime Raya ( Rimba Raya ) yang terkenal strategis dan berhutan lebat, dulunya daerah ini bernama Tanoh Ilang ( Tanoh Merah ). Di daerah inilah Radio Rimba Raya mengudara tanpa bisa terlacak oleh pesawat tempur Belanda, sampai akhirnya tercapai kesepakatan penyerahan kedaulatan Indonesia oleh Belanda melalui perundingan KMB ( Konferensi Meja Bundar ) di Denhaag.

sumber oleh: Zuhri Sinatra dan Ikmal Gopi

Tuesday, November 1, 2011

Tari Saman

Tari Saman adalah sebuah tarian adat yang biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat dan masyarakat Aceh. Syair dalam tarian Saman mempergunakan bahasa Arab dan bahasa Gayo. erakanSelain itu biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Nama tarian "Saman" diperoleh dari salah satu ulama besar NAD, Syech Saman.

Makna dan Fungsi
Tari saman merupakan salah satu media untuk pencapaian pesan (Dakwah). Tarian ini mencerminkan Pendidikan, Keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan.

Sebelum saman dimulai yaitu sebagai mukaddimah atau pembukaan, tampil seorang tua cerdik pandai atau pemuka adat untuk mewakili masyarakat setempat (keketar) atau nasehat-nasehat yang berguna kepada para pemain dan penonton.

Lagu dan syair pengungkapannya secara bersama dan kontinu, pemainnya terdiri dari pria-pria yang masih muda-muda dengan memakai pakaian adat. Penyajian tarian tersebut dapat juga dipentaskan, dipertandingkan antara group tamu dengan group sepangkalan ( dua group ). Penilaian ditititk beratkan pada kemampuan masing-masing group dalam mengikuti gerak, tari dan lagu (syair) yang disajikan oleh pihak lawan.

 


Nyanyian

Nyanyian para penari menambah kedinamisan dari tarian saman. Dimana cara menyanyikan lagu-lagu dalam tari saman dibagi dalam 5 macam :

1. Rengum, yaitu auman yang diawali oleh pengangkat.
2. Dering, yaitu regnum yang segera diikuti oleh semua penari.
3. Redet, yaitu lagu singkat dengan suara pendek yang dinyanyikan oleh seorang penari pada bagian tengah tari.
4. Syek, yaitu lagu yang dinyanyikan oleh seorang penari dengan suara panjang tinggi melengking, biasanya sebagai tanda perubahan gerak
5. Saur, yaitu lagu yang diulang bersama oleh seluruh penari setelah dinyanyikan oleh penari solo.

Gerakan

Tarian saman menggunakan dua unsur gerak yang menjadi unsur dasar dalam tarian saman: Tepuk tangan dan tepuk dada.Diduga,ketika menyebarkan agama islam,syeikh saman mempelajari tarian melayu kuno,kemudian menghadirkan kembali lewat gerak yang disertai dengan syair-syair dakwah islam demi memudakan dakwahnya.Dalam konteks kekinian,tarian ritual yang bersifat religius ini masih digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui pertunjukan-pertunjukan.



Sumber: Budaya Indonesia

Monday, October 31, 2011

Silaturrahmi Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa Gayo Yogya dan Malang

Yogyakarta – Minggu, 14 Juni 2009 lima orang dari Pengurus Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Tanoh Gayo (IPPMTG) Malang melakukan kunjungan silaturrahmi ke Sekretariat Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Laut Tawar Yogyakarta (IPEMALUTYO) di Asrama Laut Tawar, Jl.Kyai Mojo JT/ I Pingit 264 Yogyakarta.
Kedatangan pengurus IPPMTG Malang untuk yang pertama kalinya ini disambut hangat oleh Pengurus dan Anggota IPEMALUTYO Yogyakarta. Tepat pada pukul 11.30 WIB, sesampainya di Asrama Laut Tawar, asrama khusus Mahasiswa Gayo, perwakilan dari pemuda, pelajar dan mahasiswa yang tinggal di Malang ini langsung diajak ke ruang tengah asrama yang merupakan ruang pertemuan untuk melaksanakan shalat Dzuhur berjama’ah, dan kemudian dilanjutkan dengan acara ramah tamah.
Kunjungan yang dipandu oleh salah seorang pengurus IPEMALUTYO sebagai moderator ini dibuka dengan sambutan selamat datang yang dilakukan oleh Surya Darma selaku Ketua IPEMALUTYO.
Dalam sambutannya, Surya mengatakan pihaknya memberikan apresiasi dan sangat senang atas kedatangan kawan-kawan Pengurus IPPMTG Malang, dan berharap kunjungan pertama ini dapat mempererat tali silaturrahmi sesama urang Gayo khususnya mahasiswa, pemuda dan pelajar yang tinggal di pulau Jawa.
Setelah memberikan sepatah-dua patah kata, Surya menjelaskan sedikit tentang kegiatan organisasi yang dipimpinnya bahwa dalam beberapa kesempatan organisasi ini turut mengirimkan wakilnya pada kegiatan-kegiatan seni budaya Gayo di Yogyakarta seperti menampilkan Tari Guel, Didong dan Saman. Diluar itu kegiatan rutin internal selain berkumpul juga mengadakan kegiatan olah raga seperti sepak bola.
Sesi selanjutnya giliran Ketua IPPMTG, Ilmiadi yang juga mewakili rombongan dari Malang menyampaikan terima kasihnya atas sambutan hangat yang diberikan oleh kawan-kawan mahasiswa, dan pelajar Gayo di Yogyakarta.
Ilmiadi, pemuda yang berasal dari Simpang Tiga – Bener Meriah ini menjelaskan motivasi IPPMTG untuk datang berkunjung menemui kawan-kawan di Yogyakarta telah lama direncanakan, namun baru bisa dilakukan saat ini.
Anggota IPPMTG ingin bertukar informasi dan melakukan kerjasama dalam pengembangan organisasi, selain itu juga turut memenuhi undangan untuk menghadiri acara wisuda Sabardi, salah seorang anggota IPEMALUTYO yang diadakan sehari sebelumnya di Kampus UMY Bantul.
Dalam acara ini turut hadir pengurus IPEMALUTYO periode terdahulu yang diwakili Yusra Tebe, Sabirin Melala Sagi, Marisa Dhani, dan beberapa orang lainnya. Yusra Tebe dalam penjelasannya tentang perjalanan dan perkembangan organisasi Gayo yang ada di Yogyakarta sejak tahun 2002 hingga saat ini menyebutkan bahwa sejak kepengurusan IPEMALUTYO yang pertama hingga sekarang yang kedelapan.
Menurut Yusra, intensitas kegiatan pertemuan antar sesama mahasiswa Gayo maupun dengan organisasi mahasiswa dari daerah lain khususnya mahasiswa Aceh mengalami pasang surut. Kondisi kurang hamonis hubungan tersebut semakin nampak pada beberapa tahun terakhir. Hal tersebut terjadi karena dipengaruhi kondisi keamanan dan politik lokal di Aceh yang kurang kondusif serta mulai ketatnya peraturan kampus dalam hal absensi menyebabkan mahasiswa mulai mengurangi aktifitas diluar kampus.
Sebelum mengakhiri sambutannya, Yusra juga menginformasikan bahwa mahasiswa Gayo yang berada di Yogyakarta berdasarkan catatan terakhir Tahun 2005 jumlahnya tidak kurang dari 150 Orang, namun setelah tahun tersebut hingga sekarang belum ada pendataan ulang berapa jumlah mahasiswa Gayo yang ada di Kota Gudeg ini.
Selanjutnya mahasiswa asal Gayo Lues, Muhaimimi juga menyampaikan harapannya agar mahasiswa Gayo tidak membeda-bedakan asal daerah, ia berharap baik urang Gayo dari Belang Kejeren maupun dari Takengon dan Bener Meriah menghilangkan sakwasangka buruk diantara sesama yang akhirnya berujung kurang harmonisnya hubungan sesama mahasiswa Gayo seperti yang terjadi selama ini, justru seharusnya yang perlu dilakukan adalah meningkatkan komunikasi diantara Mahasiswa Gayo perantauan.
Di akhir sesi, rombongan mahasiswa dari Malang bersama mahasiswa Gayo dari Yogyakarta yang hadir dalam acara ini jumlahnya lebih kurang 25 orang dipersilakan untuk menikmati santap siang yang telah disediakan sambil beramah-tamah dengan sesama.
Setelah makan siang acara pun berlanjut. Kali ini adalah permainan Didong. Kedua pihak saling mempertunjukkan kebolehannya. Dari Grup IPPMTG Malang ada Ceh Irwan, sementara IPEMALUTYO sebagai tuan rumah memiliki Ceh Fitra. Kedua Ceh saling beradu syair dengan melantunkan syair-syair andalan dengan iringan penepok yang sangat semangat hingga membuat gema dari ruangan Asrama Laut Tawar itu terdengar keras keluar.
Setelah masing-masing membawakan sedikitnya lima Syair Didong, sesi ini tersebut ditutup dengan ”Pepongoten” yang dibawakan oleh Ceh Irwan yang membuat ruangan tadinya penuh dengan gemuruh gelak tawa hadirin karena mendengarkan Lirik yang lucu, berubah menjadi hening, yang terdengar hanyalah suara merdu seorang Ceh menyerupai perpaduan dua orang Ceh yakni Kabri Wali dan M. Isa Arita. Dari sisi belakang grup didong sayup-sayup terdengar suara isak tangis seorang ibu yang larut dalam bait-bait syair Pepongoten.
Usai didong, pengurus dan anggota dari kedua organisasi ini melakukan foto bersama sebagai kenang-kenangan dan setelah itu melanjutkan kembali acara diskusi hingga menjelang Maghrib. Sebelum acara berakhir Aman Sabardi, salah satu orang tua dari mahasiswa asal Isaq yang datang ke Yogyakarta untuk menghadiri wisuda anaknya yang juga turut hadir dalam acara tersebut, menyampaikan rasa haru sekaligus bangga melihat usaha mahasiswa Gayo di Yogyakarta dan Malang untuk tetap menjalin dan meningkatkan silaturahmi antar sesama Urang Gayo di Perantauan.
Aman Sabardi berharap hal yang sama dilakukan oleh mahasiswa dan keluarga Gayo lainnya di daerah manapun mereka tinggal agar tetap menjalin komunikasi dan menjaga Silaturahmi. Di akhir ucapannya, beliau berdoa, semoga yang hadir dalam ruangan Asrama Laut Tawar ini menjadi orang-orang yang sukses dan berguna bagi keluarga, bangsa dan agama. Amin Ya Rabbal Alamin.

Bebujang-Beberu Gayo Yogyakarta

Saturday, October 29, 2011

Aku benci bermimpi

Aku benci bermimpi
terlebih untuk sesuatu yang tak pasti
ingin kubunuh Imajiku
Aku tak ingin bermimpi lagi
karna ini telah memberikan berjuta Nyeri

Hidup bukan untuk Bermimpi
melainkan untuk mewujudkan Obsesi...:)

Suntuk

video ini sengaja dibuat diasrama Lut Tawar Yogyakarta semata-mata hanya untuk menghilangkan rasa rindunya kepada seseorang dan menghilangkan rasa suntuk dikota pelajar (Yogyakarta)...heeeee

NB: Dengarkanlah....!!!Ara Kepengen Abg...heee

"Teater" Syair Diujung Kabut

Tetapi mengapa lagi-lagi orang harus menyaksikan perang dan perang dinegerinya. Keberingasan dilampiaskan pada diri sendiri, saudara sendiri, kerabat sendiri, bangsa sendiri. Ketika setiap orang berpergian di negerinya sendiri, tak henti-hentinya diperiksa, diteliti, dan diteliti lagi. Seolah sampai pada napas yang mendesah alami dari setiap rongga mulut pun harus dicurigai. Masya Allah ! (Ibrahim Kadir)
But why again and again people have witnessed war and war in the country. Acts of violence to yourself, your own, your own relatives, the nation itself. When each person traveling in his own country, constantly examined, researched, and researched more. Looks like a breath a sigh on the nature of each of the oral cavity must be suspected. Masya Allah ! (Ibrahim Kadir)
 
Tahun  1940, disebuah kampung benama Kemili kecamatan Bebesan Aceh Gayo, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Ibrahim Kadir. Bakat seninya sudah terlihat sedari kecil sebagai seorang pemain tari Seudati yang dikemudian hari bakal mengantarkannya menjadi seorang Ceh, seorang seniman yang piawai dalam mencipta syair-syair yang dikenal sebagai seni bertutur atau sering disebut sebagai seni Didong. Kesenian Didong selalu menampilkan dua grup dalam sebuah penampilan untuk saling mengadu ketangkasan kata. Meskipun saling menyerang dengan kata-kata, syair-syair dalam didong mengandung makna yang dalam serta sarat dengan nilai-nilai estetika. Kesenian khas tanah Gayo ini diperkirakan muncul sejak Reje Linge ke 13

In 1940, a village named Kemili Bebesan Gayo Aceh district, was born a son named Ibrahim Kadir. His artistic talent is seen as a childhood dance Seudati players will then be escorted into CEH, an artist skilled in creating poetry known as the art of speaking or often referred to as art Didong. Didong art always show two groups in the view for each dexterity words complained of. Although attacked each other with words, poetry in Didong implies a deep and loaded with aesthetic values. Art typical soil Gayo Reje thought to arise from Linge to 13


Syair di ujung Kabut adalah satu dari sekian banyak karya Ramdiana. Dengan mengambil latar belakang tanah kelahirannya, Ramdiana yang baru saja merampungkan S2 nya di ISI Yogyakarta jurusan penciptaan teater mencoba mengembalikan ingatan kita akan peristiwa pahit tentang korban politik pada masa itu. Sosok Ibrahim Kadir seorang Ceh Didong yang karena kekeliruan ditangkap dan dituduh memberontak bersama PKI.
Poetry at the end of the Mist is one of the many works of Ramdiana. Given the background of his homeland, Ramdiana S2, which recently completed the creation in ISI Yogyakarta majoring in theatre trying to restore the bitter memories of victims of political events at that time. The figure of Ibrahim Kadir, a CEH Didong deliberately arrested and accused of rebellion with the PKI.

22 hari Ibrahim Kadir dipenjara. Selama dalam tahanan inilah sebuah kisah terkuak. Ibrahim Kadir melihat pembantaian demi pembantaian terjadi. Ia menjadi saksi dari kebiadaban itu. Melalui syair-syairnya yang ia tulis selama mendekam dipenjara, Ibrahim Kadir menceritakan pembantaian yang setiap hari ia saksikan.
Ibrahim Kadir, 22 days in jail. While in the custody of here is the story unfolds. Ibrahim Kadir see carnage after the massacre. He witnessed the barbarity. Through his poems he wrote during the time in prison, Ibrahim Kadir described the massacre that he witnessed every day.
Inilah yang barangkali membuat Ramdiana berani dan mampu menyuguhkan sebuah pementasan dengan apik. Alur cerita yang kuat dan saksi kunci yang masih hidup. Dengan merujuk pada syair-syair serta kisah hidup Ibrahim Kadir yang akhirnya selamat dari pembantaian peristiwa pada masa itu sebuah sejarah dibuka.
 
This is what probably makes Ramdiana brave and able to play with the smooth. Strong storyline and key witnesses still alive. With reference to the poems and the life story of Ibrahim Kadir, which ultimately survived the massacre events of that time. Part of the story unfolds eventually returns.
Konsep pertunjukan yang ditawarkan Ramdiana cukup menarik. Permainan lighting minimalis serta properti karung goni, mondar-mandir diangkut para pemain yang berperan sebagai kuli panggul.

Tumpukan karung-karung goni sebagai seting utama, seperti tafsir kejadian pada masa tahun 1950 ketika muncul pergolakan DI/TII yang kemudian disusul meletusnya PKI dimana orang-orang tak bersalah diangkut secara paksa kemudian dipenjara tanpa tahu apa kesalahannya
The concept of the show suggested that Ramdiana very interesting. Minimalist lighting and ownership of burlap sacks, transporting paced player who acted as porters pelvis. The piles of burlap sacks as the settings key, such as the interpretation of the events during the uprising of 1950, when he learned DI / TII are followed by the eruption of the PKI which they people innocent were taken by force and imprisoned without knowing what the failure.

Pada pertengahan pertunjukan tiba-tiba muncul  tali-tali tambang yang dijadikan sebagai simbol tiang gantungan bagi para tahanan. Lengkap sudah pertunjukan itu menjadi sebuah tontonan yang tidak hanya sekedar hiburan, melainkan sebuah refleksi akan sebuah kisah yang terjadi di Gayo pada masa itu.
In the middle of the show suddenly appeared rope mines, which serve as a symbol of the gallows for prisoners. Complete show has become a spectacle, which is not just entertainment, but rather a reflection of a story that occurred in the Gayo in the days.


Lewat pementasan teater Syair di ujung Kabut, sepertinya Ramdiana tidak hanya ingin menguak cerita lama yang menjadi trauma masyarakat Gayo tetapi seperti ada pesan tersembunyi bahwa seni Didong adalah seni bertutur yang sarat akan nilai-nilai religius, adat istiadat, semangat nasionalisme serta  jiwa kegotong-royongan yang kuat.
Through the poem at the end of theatrical fog, it seems Ramdiana not just want to open old history, which has traumatized Gayo society but, as a hidden message that art is the art of Didong talk which will be full of religious values, customs, the spirit of nationalism and the spirit of co-operativity strong. (Kuncoro)

SUTRADARA Ramdiana PENATA GERAK Gita Kinanthi PENATA SETTING Beni Susilo Wardoyo (Mata Emprit) PENATA KOSTUM /MAKE UP Dhani Brain PENATA MUSIK Reza Dien PENATA LIGHTING Dwi Novianto 
PEMAIN Eliz Christin,, Eka Whayu N H, Andre Pratama, Silvi A Purba, Syahri Utomo, Khairul Amri, Gunadi Ponsa, Aguez Jago (Jawa-Gayo) , Wein Kurniadi, Alfansyie Gayto Hakka, Arbiyanto Saputra B N, Taufiq Suhada, Rhara AR Sultan, Gita Kinanthi,, Silvia Purba, Edi, Heksa, Kurtubi, Dhany Beno, AB Asmarandana.

sumber: http://www.indonesiaculture.net

Jalan Yang Hilang

langit tampak hitam
belum juga terang
aku sangat takut
ku sangat pengecut
mataku terpejam
dan sangat berharap
bukan aku yang terbuang

lampuku temaram
tak tampak terang
hatiku terdiam
laksana karang
ketika kucoba mencari-cari
jalan yang hilang

akan kutempuh dikegelapan

hidupku terasa pekat
nafasku tersendat-sendat
kulakukan semua itu
hanyalah untuk-Mu

ambil semua yang kau mau
hidupku pun bila perlu
bolehkah aku menuju-Mu
di jalan yang hilang