Pages

Sunday, November 6, 2011

RADIO RIMBA RAYA

Pada tanggal 19 Desember tahun 1948 terjadi agresi militer Belanda ke II, dengan menguasai Yogyakarta sebagai ibukota negara, Belanda mengumumkan kepada dunia bahwa Indonesia sudah takluk dan keberadaaannya di PBB sudah dihapus serta melakukan penangkapan terhadap Soekarno, Mohamad Hatta dan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya Ibukota negara ini menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI)  di Sumatra yang dipimpin oleh Syafrudin Prawiranegara.
Presiden dan Wakil Presiden membuat surat kuasa yang ditujukan kepada Mr. Syafruddin Prawiranegara yang saat itu menjabat Menteri Kemakmuran yang sedang berada di Bukittinggi. Presiden dan Wakil Presiden mengirim kawat kepada Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk pemerintahan darurat di Sumatra dan mengambil alih Pemerintah Pusat.Tetapi surat itu tidak sampai ketangan Syafruddin Prawiranegara. Selain itu, untuk menjaga kemungkinan bahwa Syafruddin tidak berhasil membentuk pemerintahan di Sumatera, juga dibuat surat untuk Duta Besar RI untuk India, dr. Sudarsono, serta staf Kedutaan RI, L. N. Palar dan Menteri Keuangan Mr. A.A. Maramis yang sedang berada di New Delhi.
Selain melakukan serangan fisik dengan senjata dan  pesawat tempur, Belanda melakukan  provokasi melalui komunikasi udara. Dr. Beel, Gubernur  Jenderal Belanda di Batavia melalui Radio mereka “Radio  Batavia” di Jakarta dan “Radio Hilversum” di Holland mengumumkan kepada dunia bahwa Indonesia sudah Collapse ( Tumbang ) , Dr. Beel juga memerintahkan pesawat tempur Belanda untuk melakukan penghancuran terhadap semua pemancar radio yang berada di semua wilayah Indonesia.

 Akibatnya, angkasa Indonesia sepi informasi, sepi pemberitaan yang membela keberadaan Indonesia, tidak ada pengumuman yang dapat membakar semangat para pejuang Indonesia,  Pasukan RI kala itu tiarap, Serangan dan propaganda Belanda melalui Radio Batavia dan Radio Hilversum memperkuat posisi politik Belanda di mata dunia internasional.
Di tengah-tengah kevakuman tersebut, muncullah peran besar Radio Rimba Raya untuk menangkis propaganda Belanda yang mengejutkan banyak pihak dan cukup telak mematahkan semangat Belanda pada saat itu. Perang urat syaraf ( Psywar ) ternyata mampu ditandingi oleh Radio Rimba Raya.
Radio Rimba Raya mematahkan provokasi dan propaganda yang dilakukan oleh Belanda, Berita penting yang menyelamatkan eksistensi Indonesia di dunia adalah “ Republik Indonesia masih ada, wilayah Republik masih ada, tentara republik masih ada, dan disini adalah Aceh”
Akhirnya, Provokasi Belanda yang pada mulanya merebak seantero dunia, pupus seketika. Respon negara-negara pendukung eksistensi Indonesia diperkuat dengan siaran “Radio Rimba Raya”.
Reaksi keras bermunculan dari dalam dan luar negeri, melawan pernyataan Dr. Beel, terutama dari negara-negara Timur-Tengah, Asia, Amerika, Mesir, Maroko, serta dari Sekjen PBB sendiri, Trigve Lie. Reaksi keras awalnya bermula dari Tanah Rencong lewat Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo Tgk Muhd. Daud Beureueh yang dipancarkan melaui siaran Radio Rimba Raya, ia mengumumkan kepada seluruh dunia bahwa Negara Republik Indonesia kini masih tegak dengan kokoh, merdeka dan berdaulat.
Melalui Radio Rimba Raya ini pula pesan disampaikan kepada delegasi Indonesia di luar negeri,dr Sudarsono di India dan  L.N. Palar delegasi Indonesia di PBB melakukan diplomasi jitu membela dan menyelamatkan eksistensi Indonesia di PBB, liku liku diplomasi antara Indonesia dan Belanda semakin di bicarakan dunia internasional.

Counter (bantahan ) yang disuarakan oleh Radio Rimba Raya mampu mematahkan propaganda Belanda dan meyakinkan dunia internasional terhadap eksistensi Indonesia, serta memaksa Belanda untuk duduk melakukan perundingan di Denhaag, yang lebih dikenal dengan Konferensi Meja Bundar (KMB) 27 Desember1949, sehingga menghantarkan Indonesia mendapatkan kedaulatannya.
Radio Rimba Raya yang telah menciptakan perjalanan sejarah Indonesia, mula-mula ditempatkan di Krueng Simpo, Bireuen, yangdigunakan oleh Tentara Divisi X dibawah kepemimpinan Kolonel Husin Yusuf. Setelah beberapa saat beroperasi, radio ini dipindahkan ke Cot Gue, Banda Aceh dengan signal calling resmi "Radio Repoeblik Indonesia
 Pemindahan ini atas dasar perintah langsung Gubernur Militer Aceh Langkat dan tanah Karo, Tgk M Daud Beureueh.
Dalam perjalanannya, ternyata di pegunungan Cot Gue pun pemancar ini tidak aman. Akhirnya diperintahkan lagi untuk diamankan ke pegunungan di Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah, yang diyakini akan sulit ditembus oleh pesawat-pesawat tempur Belanda. Peralatan Radio ini ditempatkan di Desa Rime Raya ( Rimba Raya ) yang terkenal strategis dan berhutan lebat, dulunya daerah ini bernama Tanoh Ilang ( Tanoh Merah ). Di daerah inilah Radio Rimba Raya mengudara tanpa bisa terlacak oleh pesawat tempur Belanda, sampai akhirnya tercapai kesepakatan penyerahan kedaulatan Indonesia oleh Belanda melalui perundingan KMB ( Konferensi Meja Bundar ) di Denhaag.

sumber oleh: Zuhri Sinatra dan Ikmal Gopi

Tuesday, November 1, 2011

Tari Saman

Tari Saman adalah sebuah tarian adat yang biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat dan masyarakat Aceh. Syair dalam tarian Saman mempergunakan bahasa Arab dan bahasa Gayo. erakanSelain itu biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Nama tarian "Saman" diperoleh dari salah satu ulama besar NAD, Syech Saman.

Makna dan Fungsi
Tari saman merupakan salah satu media untuk pencapaian pesan (Dakwah). Tarian ini mencerminkan Pendidikan, Keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan.

Sebelum saman dimulai yaitu sebagai mukaddimah atau pembukaan, tampil seorang tua cerdik pandai atau pemuka adat untuk mewakili masyarakat setempat (keketar) atau nasehat-nasehat yang berguna kepada para pemain dan penonton.

Lagu dan syair pengungkapannya secara bersama dan kontinu, pemainnya terdiri dari pria-pria yang masih muda-muda dengan memakai pakaian adat. Penyajian tarian tersebut dapat juga dipentaskan, dipertandingkan antara group tamu dengan group sepangkalan ( dua group ). Penilaian ditititk beratkan pada kemampuan masing-masing group dalam mengikuti gerak, tari dan lagu (syair) yang disajikan oleh pihak lawan.

 


Nyanyian

Nyanyian para penari menambah kedinamisan dari tarian saman. Dimana cara menyanyikan lagu-lagu dalam tari saman dibagi dalam 5 macam :

1. Rengum, yaitu auman yang diawali oleh pengangkat.
2. Dering, yaitu regnum yang segera diikuti oleh semua penari.
3. Redet, yaitu lagu singkat dengan suara pendek yang dinyanyikan oleh seorang penari pada bagian tengah tari.
4. Syek, yaitu lagu yang dinyanyikan oleh seorang penari dengan suara panjang tinggi melengking, biasanya sebagai tanda perubahan gerak
5. Saur, yaitu lagu yang diulang bersama oleh seluruh penari setelah dinyanyikan oleh penari solo.

Gerakan

Tarian saman menggunakan dua unsur gerak yang menjadi unsur dasar dalam tarian saman: Tepuk tangan dan tepuk dada.Diduga,ketika menyebarkan agama islam,syeikh saman mempelajari tarian melayu kuno,kemudian menghadirkan kembali lewat gerak yang disertai dengan syair-syair dakwah islam demi memudakan dakwahnya.Dalam konteks kekinian,tarian ritual yang bersifat religius ini masih digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui pertunjukan-pertunjukan.



Sumber: Budaya Indonesia