Dalam perjalanan dari Bali ke Yogya untuk menjemput dan menemani rombongan turis klienku di bulan Ramadhan yang lalu. Dalam pesawat aku bertemu dua orang turis, cewek asal Jepang yang duduk sebangku denganku.
Kehadiran mereka berdua lumayan menyegarkan pandangan di dalam kabin pesawat, secara pesawat Garuda Indonesia Airways, maskapai penerbangan tertua dan kebanggaan Indonesia yang kutumpangi ini yang menganut kebijakan mempekerjakan pramugari dengan tingkat profesionalitas dan pengalaman tinggi. Yang berarti umurnya juga sudah tinggi dan tidak segar lagi serta sudah kurang menarik secara estetika bentuk.
Kedua gadis Jepang yang bernama Erika dan Aiko ini, keduanya bekerja sebagai perawat di Kobe, sebuah kota Jepang. Ketika duduk di sebelahku keduanya hanya meminta maaf dengan gaya kaku khas Jepang dan langsung diam. Karena rata-rata cewek Jepang memang minderan, tidak ada inisiatif dari mereka untuk mengajakku ngobrol. Melihat situasi seperti itu, akulah yang langsung berinisiatif duluan mengajak ngobrol.
Sebagaimana umumnya orang Jepang, Erika dan Aiko tidak fasih berbahasa apapun kecuali bahasa Jepang. Tapi mereka senang sekali kalau ada orang lain yang mengajak mereka ngobrol, meskipun ngobrolnya lebih banyak menggunakan bahasa tubuh dan gambar. Kalau aku tidak mengerti penjelasan mereka, aku menyodorkan notes dan pensil yang selalu kubawa di setiap perjalanan.
Mengobrol dengan dua gadis jepang ini sangat menyenangkan. Antusiasme yang mereka tunjukkan terutama kalau ucapanku menyenangkan mereka, juga ekspresi-ekspresi spontan khas jepang yang mereka tunjukkan, sangat menggemaskan. Sehingga akupun otomatis jadi semakin termotivasi membuat mereka senang.
Misalnya ketika aku menanyakan umur, mereka menyuruhku menebak. Menghadapi situasi seperti ini aku langsung teringat sebuah jurus ampuh yang diajarkan oleh 'Kadal', teman lamaku di Leuser dulu. Seorang womanizer legendaris di organisasi pecinta alam kami.
Aku ingat, dulu Kadal pernah mengajariku begini " Win...tiap kali ada cewek yang nyuruh kee nebak namanya, jangan pernah kee tebak lebih tua, usahakan selalu kee tebak lebih muda dari yang kee perkirakan". Kata Kadal padaku suatu waktu.
Jurus yang diajarkan Kadal ini benar-benar aku ingat dan selalu aku praktekkan bahkan mungkin sudah mendarah daging daging dalam diriku. Setiap kali ada perempuan menyuruh menebak namanya selalu kusebut angka yang lebih kecil dari perkiraanku. Sehingga ketika dua gadis Jepang yang cantik yang duduk tepat di sampingku ini memintaku menebak umurnya yang kuperkirakan antara 21 sampai 23 tahun. Otomatis tanpa berpikir aku langsung menyebut angka 18.
Tebakanku itu langsung mendapat reaksi spontan yang menyenangkan dari mereka berdua, wajah mereka berdua langsung sumringah sambil bertepuk tangan, bahkan aku hampir mereka peluk saking gembiranya. Kemudian dengan antusias pula mereka mengatakan kalau umur mereka sebenarnya 22 tahun. Tepat seperti dugaanku. Sejak saat itu obrolan kamipun semakin lancar.
Antusiasme dan keramahan dua gadis Jepang ini mengingatkanku pada masa-masa aku masih sering berpergian sendirian ke mana-mana dulu. Mereka mengingatkanku pada sebuah 'istilah' yang beredar di kalangan kami kaum 'back packers' yang ditujukan pada cewek-cewek Jepang. 'Yellow Cab', yang artinya 'Taksi Kuning' seperti yang sering kita lihat di film-film yang menjadikan New York sebagai latar belakang. 'Taksi Kuning' maksudnya siapa saja boleh naik. Panggilan itu menggambarkan betapa mudahnya menaklukkan Gadis Jepang.
Cewek-cewek Jepang terkenal di kalangan back packer sebagai cewek-cewek yang paling mudah ditaklukkan. Mereka begitu mudah ditaklukkan karena cowok-cowok Jepang memang terkenal kasar, kaku dan sama sekali tidak romantis. Di Jepang, perempuan lebih khusus lagi Istri biasanya diperlakukan sangat buruk. Bahkan di zaman dulu dan beberapa masih tetap terjadi di zaman sekarang. Seorang suami yang mengajak Geisha ke rumahnya harus dilayani dengan baik oleh istrinya. Suami dan Geisha itu bersenang-senang si Istri menyediakan teh, pakaian kering lengkap dengan air hangat untuk mandi.
Ketika kutanyakan hal itu kepada kedua gadis ini mereka juga membenarkan. Tapi menurut mereka, kalau mencari suami mereka tetap ingin mendapatkan suami orang Jepang. Alasannya mereka tidak terbiasa dengan budaya di luar Jepang dan hanya bahasa Jepang yang mereka kuasai. Ketika kutanyakan bagaimana kalau nantinya suami mereka suka ke Geisha. Erika menjawab "biar saja asal tidak dibawa ke rumah".
"Damn!...kalau saja aku belum menikah", pikirku.
Obrolan kami terus berlanjut, sampai ke berapa penghasilan mereka di Jepang dan berapa biaya yang mereka keluarkan untuk perjalanan ini. Dan dari penuturan mereka, gaji mereka di Jepang pasti akan membuat iri perawat manapun di negeri ini. 190.000 Yen per bulan, setara dengan 1900 USD alias 19 juta rupiah. Biaya yang sama juga mereka keluarkan untuk berlibur selama seminggu dengan menginap di hotel-hotel berbintang lima di Pulau Bali.
Selama perjalanan, obrolan kami semakin seru. Hanya sayangnya penerbangan Bali- Yogya ini hanyalah penerbangan jarak pendek, sekitar 1 jam 15 Menit kami sudah sampai di Bandara Yogya.
Saat pesawat mendarat kami saling bertukar e-mail. Aku memberikan kartu namaku. Lalu saat turun kami berpisah mereka yang sorenya langsung pulang ke Bali, di bandara dijemput oleh tur operator mereka di Yogya. Lalu langsung menuju ke Prambanan dan Borobudur. Sementara aku yang harus menunggu selama 2 Jam lagi sampai Malaysian airlines yang membawa rombongan turis klienku tiba. Dijemput oleh seorang sepupuku yang kuliah di Yogya dan langsung ke warnet untuk membaca beberapa e-mail dan memposting beberapa tulisan ke milis.
Wassalam
Win Wan Nur
No comments:
Post a Comment